MAKALAH PEMERIKSAAN FISIK IBU HAMIL
BAB
I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah
proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda
klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam
medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan
perencanaan perawatan pasien. Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara
sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak. Setelah
pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi,
beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi. Dengan petunjuk
yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat menyususn
sebuah diagnosis diferensial,yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin
menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan
penyebab tersebut. Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri diri
penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam
prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan tekanan darah selalu
dilakukan pertama kali.
B. RUMUSAN MASALAH
1.Mengetahui definisi pemeriksaan fisik
2.Memahami tujuan pemeriksaan fisik
3.Mengetahui metode dan langkah pemeriksaan fisik
4.Mengetahui tentang pemeriksaan tanda vital
C. MANFAT
1.
Sebagai data untuk membantu
perawat/bidan dalam menegakkan diagnose keperawatan.
2.
Mengetahui masalah kesehatan yang di
alami klien.
3.
Sebagai dasar untuk memilih
intervensi keperawatan yang tepat
4.
Sebagai data untuk mengevaluasi
hasil dari asuhan keperawatan
BAB
II
PEMBAHASAN
A .DEFENISI
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan
adanya kelainan-kelainan dari suatu sistim atau suatu organ tubuh dengan cara
melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan
(auskultasi). (Raylene M Rospond,2009; Terj D. Lyrawati,2009). Pemeriksaan
fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan memakai indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi masalah
kesehatan klien.Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi, auskultasi,
palpasi, dan perkusi (Craven & Hirnle, 2000; Potter & Perry, 1997;
Kozier et al., 1995). Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk
mendapatkan data objektif dari riwayat keperawatan klien. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik
keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. Misalnya ketika klien
mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji apakah
gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
atau tidak.
B.TUJUAN
PEMERIKSAAN FISIK
1.Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan:
a.Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.
b.Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang
diperoleh dalam riwayat keperawatan.
c.Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa
keperawatan.
d.Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status
kesehatan klien dan penatalaksanaan.
e.Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan.
2. Hal– hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan
fisik :
a.Selalu meminta kesediaan/ ijin pada pasien untuk setiap
pemeriksaan
b.Jagalah privasi pasien
c.Pemeriksaan harus seksama dan sistimatis
d.Jelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan
(tujuan, kegunaan, cara dan bagian yang akan diperiksa)
e.Beri instruksi spesifik yang jelas
f.Berbicaralah yang komunikatif
g.Ajaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan
h.Perhatikanlah ekpresi/bahasa non verbal dari pasien
C. METODE
DAN LANGKAH PEMERIKSAAN FISIK
1.
INSPEKSI
Merupakan metode pemeriksaan pasien dengan melihat langsung
seluruh tubuh pasien atau hanya bagian tertentu yang diperlukan. Metode
ini berupaya melihat
kondisi klien dengan menggunakan „sense of sign‟ baik
melalui mata telanjang atau
alat bantu penerangan (lampu). Inspeksi adalah kegiatan
aktif, proses ketika perawat harus mengetahui apa yang dilihatnya dan dimana
lokasinya. Metode inspeksi ini digunakan untuk mengkaji warna kulit, bentuk,
posisi, ukuran dan lainnya dari tubuh pasien. Pemeriksa menggunakan
indera penglihatan berkonsentrasi untuk melihat pasien secara seksama,
persistem dan tidak terburu-buru sejak pertama bertemu dengan cara memperoleh
riwayat pasien dan terutama sepanjang pemeriksaan fisik dilakukan. Inspeksi
juga menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk mengetahui lebih
lanjut, lebih jelas dan lebih memvalidasi apa yang dilihat oleh mata dan
dikaitkan dengan suara atau bau dari pasien. Pemeriksa kemudian akan
mengumpulkan dan menggolongkan informasi yang diterima oleh semua indera
tersebut yang akan membantu dalam membuat keputusan diagnosis atau terapi.
Cara pemeriksaan :
a.Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri
b.Bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka (diupayakan
pasien membuka sendiri pakaiannya. Sebaiknya pakaian tidak dibuka sekaligus,
namun dibuka seperlunya untuk pemeriksaan sedangkan bagian lain ditutupi
selimut).
c.Bandingkan bagian tubuh yang berlawanan (kesimetrisan) dan
abnormalitas.Contoh : mata kuning (ikterus), terdapat struma di leher, kulit
kebiruan(sianosis), dan lain-lain.
d.Catat hasilnya.
2.
PALPASI
Merupakan metode pemeriksaan pasien dengan menggunakan
„sense of touch‟
Palpasi adalah suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan
dengan perabaan dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau
tangan. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk
mengumpulkan data, misalnya metode palpasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi
suhu tubuh(temperatur), adanya getaran, pergerakan, bentuk, kosistensi dan
ukuran. Rasa nyeri tekan dan kelainan dari jaringan/organ tubuh.
Teknik palpasi dibagi menjadi dua:
a.Palpasi ringan
Caranya : ujung-ujung jari pada satu/dua tangan digunakan
secara simultan. Tangan diletakkan pada area yang dipalpasi, jari-jari ditekan
kebawah perlahan-lahan sampai ada hasil.
b.Palpasi dalam (bimanual)
Caranya : untuk merasakan isi abdomen, dilakukan dua tangan.
Satu tangan untuk merasakan bagian yang dipalpasi, tangan lainnya untuk menekan
ke bawah. Dengan Posisi rileks, jari-jari tangan kedua diletakkan melekat
pd jari2 pertama.
Cara pemeriksaan :
1
Posisi pasien bisa tidur, duduk atau
berdiri
2
Pastikan pasien dalam keadaan rilek
dengan posisi yang nyaman
3
Kuku jari-jari pemeriksa harus
pendek, tangan hangat dan kering
4
Minta pasien untuk menarik napas
dalam agar meningkatkan relaksasi otot.
5
Lakukan Palpasi dengan sentuhan
perlahan-lahan dengan tekanan ringan
6
Palpasi daerah yang dicurigai,
adanya nyeri tekan menandakan kelainan.
7
Lakukan Palpasi secara hati-hati
apabila diduga adanya fraktur tulang.
8
Hindari tekanan yang berlebihan pada
pembuluh darah.
9
Rasakan dengan seksama kelainan
organ/jaringan, adanya nodul, tumor bergerak/tidak dengan konsistensi
padat/kenyal, bersifat kasar/lembut, ukurannya dan ada/tidaknya getaran/ trill,
serta rasa nyeri raba / tekan.
10
Catatlah hasil pemeriksaan yang
didapat.
3.
PERKUSI
Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan
mendengarkan bunyi getaran/ gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh
dari bagian tubuh yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan ketokan jari
atau tangan pada permukaan tubuh. Perjalanan getaran/ gelombang suara
tergantung oleh kepadatan media yang dilalui. Derajat bunyi disebut dengan
resonansi. Karakter bunyi yang dihasilkan dapat menentukan lokasi, ukuran,
bentuk, dan kepadatan struktur di bawah kulit. Sifat gelombang suara yaitu semakin
banyak jaringan, semakin lemah hantarannya dan udara/ gas paling resonan.
Cara pemeriksaan :
1
Posisi pasien dapat tidur, duduk
atau berdiri tergantung bagian yang akan diperiksa
2
Pastikan pasien dalam keadaan rilex
3
Minta pasien untuk menarik napas
dalam agar meningkatkan relaksasi otot.
4
Kuku jari-jari pemeriksa harus
pendek, tangan hangat dan kering.
5
Lakukan perkusi secara seksama dan
sistimatis yaitu dengan :
6 Bandingkan atau
perhatikan bunyi yang dihasilkan oleh perkusi.
4.
AUSKULTASI
Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan
dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan
alat yang disebut dengan stetoskop.
Hal-hal yang didengarkan adalah: bunyi jantung, suara nafas,
dan bising usus.
a.Frekuensi yaitu menghitung jumlah getaran permenit.
b.Durasi yaitu lama bunyi yang terdengar.
c.Intensitas bunyi yaitu ukuran kuat/ lemahnya suara
d.Kualitas yaitu warna nada/ variasi suara.
a.Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat
saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
b.Ronchi :nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat
inspirasi maupun saat ekspirasi.Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien
batuk. Misalnya pada edema paru.
c.Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai
pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.
Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar “kering” seperti
s
uara gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan
peradangan pleura.
Cara pemeriksaan :
1
Posisi pasien dapat tidur, duduk
atau berdiri tergantung bagian yang diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa
harus terbuka
2
Pastikan pasien dalam keadaan rilek
dengan posisi yang nyaman
3
Pastikan stetoskop sudah terpasang
baik dan tidak bocor antara bagian kepala, selang dan telinga
4
Pasanglah ujung steoskop bagian
telinga ke lubang telinga pemeriksa sesuai arah
5
Hangatkan dulu kepala stetoskop
dengan cara menempelkan pada telapak tangan pemeriksa
6
Tempelkan kepala stetoskop pada
bagian tubuh pasien yang akan diperiksa
7
Pergunakanlah bel stetoskop untuk
mendengarkan bunyi bernada rendah pada tekanan ringan yaitu pada bunyi jantung
dan vaskuler dan gunakan diafragma untuk bunyi bernada tinggi seperti bunyi
usus dan paru
D.PEMERIKSAAN
TANDA-TANDA VITAL
Pemeriksaan tanda vital merupakan bagian dari data dasar
yang dikumpulkan oleh perawat selama pengkajian. Perawat mengkaji tanda
vital kapan saja klien masuk ke bagian perawatan kesehatan. Tanda vital
dimasukkan ke pengkajian fisik secara menyeluruh atau diukur satu persatu untuk
mengkaji kondisi klien. Penetapan data dasar dari tanda vital selama
pemeriksaan fisik rutin merupakan control terhadap kejadian yang akan datang.
Pemeriksaan tanda vital terdiri atas pemeriksaan nadi, pernafasan, tekanan
darah dan suhu. Pemeriksaan ini merupakan bagian penting dalam menilai
fisiologis dari sistem tubuh secara keseluruhan.
1.Pemeriksaan Nadi
Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang dirasakan
dari proses pemompaan jantung. Setiap kali bilik kiri jantung menegang
untuk menyemprotkan darah ke aorta yang sudah penuh, maka dinding arteria dalam
sistem peredaran darah mengembang atau mengembung untuk mengimbnagi
bertambahnya tekanan. Mengembangnya aorta menghasilkan gelombang di dinding
aorta yang akan menimbulkan dorongan atau denyutan.
Tempat-tempat menghitung denyut nadi
adalah:
1)
Ateri radalis : Pada pergelangan
tangan
2)
Arteri temporalis : Pada tulang
pelipis
3)
Arteri carotis : Pada leher
4)
Arteri femoralis : Pada lipatan paha
5)
Arteri dorsalis pedis : Pada
punggung kaki
6)
Arteri popliteal : pada lipatan
lutut
7)
Arteri bracialis : Pada lipatan siku
Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
2.Pemeriksaan Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan. Beberapa langkah
yang dilakukan pada pemeriksaan tekanan darah menggunakan sfigmomanometer
air raksa. Tempat untuk mengukur tekanan darah seseorang adalah : Lengan atas
atau Pergelangan kaki.
Langkah pemeriksaan :
1
Memasang manset pada lengan atas,
dengan batas bawah manset 2 – 3 cm dari lipat siku dan perhatikan
posisi pipa manset yang akan menekan tepat di atas denyutan arteri di lipat
siku ( arteri brakialis)
2
Letakkan stetoskop tepat di atas
arteri brakialis
3
Rabalah pulsasi arteri pada
pergelangan tangan (arteri radialis)
4
Memompa manset hingga tekanan manset
30 mmHg setelah pulsasi arteri radialis menghilang. e.Membuka katup manset dan
tekanan manset dibirkan menurun perlahan dengan kecepatan 2-3 mmHg/detik
5
Bila bunyi pertama terdengar ,
ingatlah dan catatlah sebagai tekanan sistolik.
6
Bunyi terakhir yang masih terdengar
dicatat sebagai tekanan diastolic
7
Turunkan tekanan manset sampai 0
mmHg, kemudian lepaskan manset. Yang harus diperhatikan sebelum melakukan
pemeriksaan tekanan darah sebaiknya sebelum dilakukan pemeriksaan pastikan
kandung kemih klien kosong dan hindari alkohol dan rokok, karena semua hal
tersebut akan meningkatkan tekanan darah dari nilai sebenarnya. Sebaiknya
istirahat duduk dengan tenang selama 5 menit sebelum pemeriksaan dan jangan
berbicara saat pemeriksaan. Pikiran harus tenang, karena pikiran yang tegang
dan stress akan meningkatkan tekanan darah.
Jumlah tekanan darah yang normal
berdasarkan usia seseorang adalah:
3.Pemeriksaan Pernafasan
Pemeriksaan
Pernafasan merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses
pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk menilai frekwensi, irama, kedalaman, dan tipe atau pola
pernafasan. Pernapasan adalah tanda vital yang paling mudah di kaji namun
paling sering diukur secara sembarangan. Perawat tidak boleh menaksir
pernapasan. Pengukuran yang akurat memerlukan observasi dan palpasi gerakan
dinding dada.
Usia Frekuensi per menit
4.Pemeriksaan Suhu
Pemeriksaan suhu Merupakan salah satu pemeriksaan yang
digunakan untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh
menghasilkan panas secara kimiawi maupun metabolisme darah.Suhu dapat menjadi
salah satu tanda infeksi atau peradangan yakni demam (di atas > 37°C).
Suhu yang tinggi juga dapat disebabkan oleh hipertermia. Suhu tubuh yang jatuh
atau hipotermia juga dinilai. Untuk pemeriksaan yang cepat, palpasi
dengan punggung tangan dapat dilakukan, tetapi untuk pemeriksaan yang akurat harus
dengan menggunakan termometer. Termometer yang digunakan bisa berupa
thermometer oral, thermometer rectal dan thermometer axilar.Proses pengaturan
suhu terletak pada hypotalamus dalam sistem saraf pusat. Bagian depan
hypotalamus dapat mengatur pembuangan panasdan hypotalamus bagian
belakang mengatur upaya penyimpanan panas. Pemeriksaan suhu dapat dilakukan
melalui oral, rektal, dan aksila yang digunakan untuk menilai keseimbangan suhu
tubuh serta membantu menentukan diagnosis dini suatu penyakit.
Tempat untuk mengukur suhu badan seseorang adalah:
Faktor- Faktor yang mempengaruhi
Suhu Tubuh yaitu antara lain :
1. Umur
Bayi yang baru lahir sangat dipengaruhi keadaan lingkungan
sekitarnya, maka dari itu harus dilindungi dari perubahan iklim yang dapat
berubah dengan cepat. Anak- anak mempunyai suhu yang lebih labil dari pada
orang dewasa. UMUR SUHU ( Celcius ) SUHU (Fahrenheit ) Bayi baru lahir 36,1 –
37,7 97 – 100 2 tahun 37,2 98,9 12 tahun 37 98,6 Dewasa 36 96,8.
2. Aktifitas tubuh
Aktifitas otot dan
proses pencernaan sangat mempengaruhi suhu tubuh. Pada pagi hari jam 04.00 –
06.00 suhu tubuh paling rendah, sedangkan sore hari sekitar jam 16.00 – 20.00
yang paling tinggi, perubahan suhuberkisar antara 1.1 –1.6 C ( 2 – 3 F ).
3. Jenis Kelamin
wanita lebih efisien dalam mengatur suhu internal tubuh dari
pada pria, hal ini disebabkan karena hormon estrogen dapat meningkatkan
jaringanlemak.Meningkatnya progesteron selama ovulasi akan meningkatkan suhu
wanita sekitar 0.3– 0.5 C (0.5–1 F) sedangan estrogen dan testoteron dapat
meningkatkan Basal Metabolic Rate 4
4. Perubahan emosi
Emosi yang meningkat akan menambah kadar Adrenalin dalam
tubuh sehingga metabolisme meningkat dan suhu tubuh menjadi naik.
5. Perubahan Cuaca
Perubahan cuaca , Iklim, atau musim mempengaruhi Evaporasi,
radiasi, konveksi, konduksi, sehingga mempengaruhi metabolisme dan suhu tubuh.
6. Makanan, minuman, rokok, dan lavemen
Makanan, minuman dan rokok dapat merubah suhu oral, misalkan
Minum air es dapat menurunkan suhu oral sekitar 0.9 C (1.6 F). Untuk itu
dianjurkan mengukur suhu oral sekitar 30 menit setelah makan, minum atau
merokok , sedangkan tempertur rectal diukur setelah 15 menit melakukan lavemen
/ enema. nilai setandar untuk mengetahui batas normal suhu tubuh manusia dibagi
menjadi empat yaitu :
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tanda
vital meliputi : tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, danfrekuensi
pernafasan. Tanda vital mempunyai nilai yang sangat penting bagifungsi tubuh.
Adanya perubahan tanda vital maka mempunyai arti sebagaiindikasi adanya
kegiatan organ-organ di dalam tubuh. Suhu tubuh merupakan hasil keseimbangan
antara produksi panas danhilangnya panas dari tubuh ke lingkungan. Produksi
panas yang dihasilkantubuh antara lain berasal dari :
a.
Metabolisme dari
b.
Shivering atau kontraksi otot skelet
c. Peningkatan produksi hormon tiroksin (
meningkatkan metabolisme seluler )
d.
Proses penyakit infeksi
e.
Termogenesis kimiawi ( rangsangan langsung dari norepinefrin dan efinefrin atau
dari rangsangan langsung simpatetik )
B. SARAN
Demikianlah yang dapat saya paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahan,karena terbatasnya pengetahuan da kurangnya rujukan atau referensi
yang ada. Penulis banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
berguna, bagi penulis khususnya dan juga para pembaca yang budiman pada
umumnya.
bagus materinya..
BalasHapusiya thanks
BalasHapuslike
BalasHapusthanks
HapusCasinoSecret: The best bonuses, promotions, games
BalasHapusCasinoSecret is a new and innovative casino where you can claim a welcome bonus 샌즈카지노 and play jeetwin for real money without risking any カジノ シークレット real money.